Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sejarah Kepulauan Meranti

Rabu, 14 Desember 2022 | Desember 14, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-12-14T05:10:16Z



Selatpanjang, Kepulauan Meranti menjadi perhatian setelah Bupati Muhammad Adil melontarkan ucapan pedas ke Kementerian Keuangan saat Rakornas Pengelolaan Pendapatan dan Belanja Daerah di Pekanbaru, Kamis (8/12/2022) lalu.


Marahnya Adil dalam Pengelolaan Pendapatan dan Belanja Daerah tersebut bukanlah tanpa sebab.


Ia marah karena Kemenkeu memberikan dana bagi hasil (DBH) yang nilainya kecil atas produksi minyak Meranti.


Protes ini dilayangkan oleh Adil di hadapan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan (Kemenkeu), Luky Afirma.


Awalnya, Adil menerangkan DBH yang diterima Kabupaten Kepulauan Meranti senilai Rp 114 miliar yang didasarkan pada perhitungan harga minyak 60 dollar AS per barel pada 2022.


Dari situlah, Adil lantas mengungkit-ungkit pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan harga minyak dunia mengalami kenaikan 100 dollar AS per barel dalam pembasan APBD 2023.


"Tapi kenapa minyak kami bertambah, lifting-nya naik, duitnya makin sedikit. Bagaimana perhitungan asumsinya, kok naiknya cuma Rp 700 juta?" ungkap Adil.


Terkait pernyataan tersebut, Kemendagri turun tangan dengan memanggil Adil ke Kantor Kemendagri Jakarta pada Senin (12/12/2022).


Kedatangan Adil diterima oleh Sekjen Kemendagri, Suhajar Diantoro. Ia lalu meminta agar Adil mengedepankan etika saat berbicara terlebih posisinya sebagai pejabat publik.

Megenal Kepulauan Meranti




Kabupaten Meranti adalah pemekaran dari Kabupaten Bengkalis yang dibentuk pada 19 Desember 2008.


Dikutip dari jurnal UIN Suska Riau, Kabupaten Meranti adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau dengan ibukota Selatpanjang. Pemekaran Kabupaten Meranti sudah diperjuangkan masyarakat Meranti sejak tahun 1957.


Hingga akhirnya dibentuklah Badan Perjuangan Pembentukan kabipaten Meranti (BP2KM) pada 25 Juli 2005 sebagai wadah aspirasi masyarakat Meranti untuk memekarkan diri dari Kabupaten Bengkalis.


Kabupaten Kepualauan Meranti sangat dekat dengan Singapura dan Malaysia yang terletak di bagian pesisir timur Sumatera dengan psisisi pantai berbatasan dengan sejumlah negara tetangga.


Kepulauan Meranti masuk dalam daerah Segitiga Pertumbuhan Ekonomi (Growth Triagle) Indonesia-Malaysia-Singapura (IMS-GT) dan secara tidak langsung sudah menjadi daerah Hinterland Kawasan Free Trade Zone )FTZ) Batam-Tanjung Balai Karimun.


Kepulauan Meranti disebut sangat potensial berfungsi sebagai Gerbang Lintas Batas Negara/Pintu Gerbang Internasional yang menghubungkan antara Riau daratan dengan negara tetangga melalui jalur laut.


Luas Kabupaten Kepulauan Meranti : 3707,84 km², sedangkan luas Kota Selatpanjang adalah 45,44 km².


Batas Wilayah kabupaten Kepulauan Meranti:

  • Utara : Selat Malaka, Kabupaten Bengkalis.
  • Selatan : Kabupaten Siak, Kabupaten Pelalawan.
  • Barat : Kabupaten Bengkalis.
  • Timur : Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau

Sejarah Selatpanjang




Dikutip dari Merantikab.go.id, Kota Selatpanjang adalah pusat Kabupaten Kepulauan Meranti yang dulunya adalah bandar (kota) yang paling sibuk dengan perniagaan di masa Kesultanan Siak.


Bandar tersebut dihuni oleh masyarakat heterogen terutama Suku Melayu dan Tionghoa yang hidup harmonis baik secara kulutral maupun perdagangan.


Di masa lalu, kawasan Selatpanjang adalah wilayah kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang saat itu menjadi salah satu kesultanan terbesar di Riau.


Pada masa pemerintahan Sultan Siak VII yaitu Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (yang bertahta tahun 1784-1810 )  memberi titah kepada Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha untuk mendirikan negeri atau Bandar di Pulau Tebing Tinggi.


Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi pernah singgah ke daerah itu untuk mengumpulkan kekuatan melawan Kerajaan Sambas (Kalimantan Barat).


Saat itu Kerajaan Sambas terindikasi bersekutu dengan Belanda yang telah khianati perjanjian setia serta mencuri mahkota Kerajaan Siak.


Sang Sultan berencana bandar tersebut akan menjadi ujung tombak pertahanan ketiga setelah Bukit Batu dan Merbau untuk menghadang penjajah dan lanun.


Pada awal Muharram tahun 1805 Masehi, di bawah pimpinan Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha diiringi beberapa pembesar Kerajaan Siak, ratusan laskar dan hulu balang menuju Pulau Tebing Tinggi.


Setelah rombongan tiba di tebing Hutan Alai (sekarang Ibukota Kecamatan Tebingtinggi Barat), Sang Panglima menghujam kerisnya memberi salam pada Tanah Alai. Namun salam itu tak dijawab oleh Tanai Alai.


Sang Panglima pun meraup tanah sekepal dan karena terasa panas, ia pun melepaskan dan mengelurkan pernyataan.


"Menurut sepanjang pengetahuan den, tanah Alai ini tidak baik dibuat sebuah negeri karena tanah Hutan Alai adalah tanah jantan, Baru bisa berkembang menjadi sebuah negeri dalam masa waktu yang lama," kata sang panglima dihadapan pembesar Siak dan anak buahnya.


Panglima bertolak menyusuri pantai pulau hingga melihat tebing tinggi. Armada pun merapat ke Tebing Tanah Tinggi bertepatan tanggal 07 April 1805 Masehi.


Panglima yang berusia 25 tahun itu mengucap bismillah dan tiba di daratan dan memberi salam.


Tanah diraupnya terasa sejuk dan nyaman. Lalu ia tancapkan keris di atas tanah (lokasinya sekarang berada di dekat komplek kantor Bea Cukai Selatpanjang), ambil berkata.


"Dengarkanlah oleh kamu sekalian di tanah Hutan Tebing Tinggi inilah yang amat baik didirikan sebuah negeri. Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan makmur apabila pemimpin dan penduduknya adil dan bekerja keras serta menaati hukum-hukum Allah."


Panglima itu berdiri tegak di hadapan semua pembesar kerajaan, laskar, hulu balang dan pasukannya. Ia pun meminta pasukannya membuka lahan yang disebut Bandar Tebing Tinggi yang kelak dikenal dengan Kota Selatpanjang.


"Den bernama Tengku Bagus Saiyid Thoha Panglima Besar Muda Siak Sri Indrapura. Keris den ini bernama Petir Terbuka Tabir Alam Negeri. Yang den sosok ini den namakan Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi."


Setelah menebas hutan dan membuka wilayah kekuasaan, berdirilah istana panglima besar.


Pada 1810 Masehi Sultan Syarif Ali mengangkat Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha itu sebagai penguasa pulau.





Kala itu, sebelah timur negeri berbatasan dengan Sungai Suir dan sebelah barat berbatasan dengan Sungai Perumbi. Seiring perkembangan waktu bandar ini semakin ramai dan bertumbuh sebagai salah satu bandar perniagaan di Kesultanan siak.


Ramaiannya bandar tersebut membuat Pemerintahan Hindia Belanda datang.


Pada tahun 1880, pemerintahan di Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi dikuasai oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung Marhum Buntut (Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak).


Pada masa pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai perubahan nama negeri ini.


Dalam keputusan sepihak, pemerintahan kolonial Belanda mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang. Namun penubahan namaa itu tidak disetujui oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah.


Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama pada tanggal 4 September 1899, Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar Tebingtinggi Selatpanjang.


J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi mangkat pada tahun 1908.


Seiring waktu masa di awal Pemerintahan Republik Indonesia, Kota selatpanjang dan sekitarnya merupakan wilayah Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Tebingtinggi.


Pada tanggal 19 Desember 2008, daerah Selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan Meranti memekarkan diri dari Kabupaten bengkalis dengan ibukota Selatpanjang.

























































penulis : ken

rilis




×
Berita Terbaru Update